Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, February 18, 2017

cerpen Bait bait Melodi

cerpen Bait bait Melodi



Setetes embun membasahi lembayung pagi.. dengan kemilau biasan cahaya surya ..
Suatu anugrah dari-Nya untuk dapat kita rasakan.. langkah angin membisik telinga lemah lembut desisnya ...
       Pancaran mentari menebar senyum... Kerlingan cahayanya menyambut lembaran esok yang membawa perubahan dan keabadian cinta merangkai senyum yang tersembunyi di angan cakrawala,,
seakan mereka mengalunkan sebuah irama... melodi,,
 tak kan pernah usai bercerita tentang dunia.. bercerita tentang takdir dan kehidupan makhluk-Nya seperti api abadi yang tak pernah padam ... seperti semangat ketegaran yang ku miliki untuk melawan derita ini...walau tak semudah membalikkan telapak tangan ...

                                                      by: emilda A.U
part 1
   Di pagi yang cerah ini Reyza tak pernah absen untuk selalu mengejar bus karena dia selalu telat untuk bangun pagi. Berbeda dengan aku yang selalu datang 45 menit sebelum bel masuk meskipun rumahku jauh dibanding Reyza. Dia tak pernah berubah semenjak dari awal masuk sekolah. Apalagi lili dia adalah yang paaaaallllliiiing “wols” dari persahabatan kami. Satu lagi yaitu tyas bisa dibilang dia menjadi penengah antara kami berempat. Sifat kami sangat berbeda walaupun begitu kami saling melengkapi satu sama lain dari kekurangan masing-masing.
          Dari keempat cewek tersebut. Reyza dan akulah yang memiliki sifat yang keras dan teguh pendirian. Namun sekeras apapun sifat yang aku miliki aku pernah merasakan yang namanya patah hati dan itu membuatku sangat trauma dengan hal itu .                                                                                               

Saat itu aku dan ketiga sahabat ku sedang mencari bahan tugas kelompok. Kami memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Saat Reyza dan Lili sedang berjalan didepan ku tiba-tiba kepalaku sakit aku tidak kuat menopang tubuhku  dan...“Bruuuuckgg” aku terjatuh.  Seketika tubuh ku lemas karena aku tidak kuat menahan rasa sakit  yang sangat menyiksa ku. Lalu  mereka bertiga tersentak kaget.  
 “Melodi!!!” .
“ Kamu nggak papa mel ? tanya Tyas”
“Iya Mel muka kamu pucat pasi kamu nggak enak badan?mending kita ke UKS kayaknya kamu nggak sehat gitu. Lili khawatir”
“ Aku nggak papa mungkin aku telat makan kali jadi lemes deh. Ucap ku menghindar!!”
Aku melihat 2 orang anak laki-laki berlari  menuju diri ku .
“Kamu nggak papa Mel? Ucapan mereka hampir bersamaan ternyata  Ditya dan Septian.”
“ Nggak usah lebay.  Aku baik-baik aja.”
 Dengan cueknya aku menjawab dan dengan sombongnya  aku mencoba berdiri walau sebearnya aku sangat lemas.
Semenjak aku merasakan kepahitan cinta. Aku tak pernah peduli dan menutup hati ku untuk siapapun. Saat aku berjalan aku berkata dalam hati.
[“Aku ini kenapa ?kenapa tiba-tiba aku pusing dan ini tidak sekali 2 kali tapi berkali-kali. Anehnya lagi setiap aku minum obat sakit kepala sakitnya tambah parah. Apa yang sebenarnya terjadi pada ku. Ya Allah semoga aku tidak apa-apa” .]
Saat sampai di rumah kepala ku pusing lagi dan ini lebih parah dari sebelumnya. Aku merasakan sesuatu keluar dari hidungku.
“Hach.. darah!!. Aku kenapa? kepala ku sakit sekali Ya Allah. Darahnya nggak berhenti-berhenti !”
Untungnya saja aku masih kuat menuju ke kamarku . Setelah menuju ke kamar aku segera mambersihkan darah itu dan segera membaringkan tubuhku di atas ranjang. Aku mendengar ibu ku memanggilku
“ Mel kok langsung masuk kamar sih!!. Nggak salam ibu dulu.”
“Iya bu aku minta maaf. Melodi lagi nggak enak badan ..!!”
“Ooo,, ya sudah. Nanti minum obat ya bentar lagi kan ujian.”
  Aku tidak menjawab karena aku masih lemas sampai-sampai aku tertidur. 2 jam berlalu. Ponselku berdering tanda pesan masuk. Aku terbangun namun pusing ku belum lekas pergi. Aku membaca pesan namun anehnya tiba-tiba pandangan ku kabur. (Aku tunggu kamu di depan sekolah besok....Septian). Lalu aku menjawabnya (ya..).
Selasa siang setelah jam istirahat karena gurunya sedang absen. Kami di beri tugas untuk mengerjakan soal latihan. Namun aku tidak memperhatikan apa yang disampaikan teman ku. Aku masih memikirkan sesuatu yang menimpa diri ku akhir-akhir ini. Reyza melihatku yang sedang tidak konsen kemudian dia menegurku.
“Mel kamu kenapa kok melamun shih ,, ngelamunin septian yach sama ditya???.”
“Huzh ngaco aja kamu kalau bicara.”
“Jujur deh sama kita sebenarnya kamu kenapa shih akhir-akhir ini ,aku perhatiin kamu sering banget melamun. Beda banget nggak kayak pertama kali kita kenal kamu ceria dan semangat.”
“Apa kamu punya masalah ?. Sharing donk sama kita-kita kalau kamu masih anggep kita  sahabat.”
“Kalian semua pada  ngaco deh. Aku fine-fine aja kok udah. Aku lagi BM doank nggak semangat aja!!. Nggak ada masalah. Nggak ada Ditya sama Septian. Nggak ada perubahan apapun dalam diri aku.”
Ketika aku mengalikan pandangan ke depan. Septian menghampiri ku. Dia memberiku sebuah gulungan kertas kecil dengan sangat malasnya aku membuka perlahan gulungan kertas itu .
(Jangan lupa nanti sepulang sekolah.)
Lalu Reyza,Lili,dan Tyas berebut mengambil gulungan kertas itu .
“C’iillleee Melodi ditunggu tu sama Septian di depan gerbang pulang sekolah.”
“Udah Mel terima aja barang kali dia mau nembak kamu.”
“Apa hebatnya juga. Mati donk kalau aku ditembak. Udah aku mau ke kamar mandi.”
 Dengan cuek  Aku langsung berdiri menuju ke kamar kecil. Saat hampir sampai ke kamar mandi aku berpapasan dengan Ditya. Aku memandangnya dengan pandangan sinis karena dia sering mengejekku. Lalu dia memanggilku.
“Mel tunggu !!!.”
“Appa ?.”
“Mel kamu kan pandai bahasa inggris.  Mau nggak bantu aku translate ini?”
Dia menyerahkan selembar kertas biru .. saat aku hampir membukanya..
“Eiitz  jangan di buka sekarang, nanti aja kalau di rumah sekalian kamu  jawab  yach !!! .”
“Ya..”  aku mencoba berlalu
“Cuek banget shih jadi cewek.” Dalam hati ditya bergumam (tapi secuek apapun kamu Mel. Aku tidak akan menyerah untuk dapat mengatakan isi hati ku yang sesungguhnya sama kamu .)
Aku segera menuju kekamar mandi karena aku sudah merasakan sakit ini datang lagi. Aku seperti sekarat di dalam kamar mandi. Aku merasa tidak kuat lagi. Rasanya kepala ku terkena palu godam. Darah yang keluar dari hidungku tercecer dilantai kamar mandi.Ya Allah kenapa penyakit ini datang lagi ... Sakiit ... saaaakkkiiiiiittt !!! pusing sekali kepala ku. Sampai-sampai aku tidak kuat mengambil gayung di hadapan ku waktu itu.  Aku masih bisa bertahan untuk beberapa saat. Setelah beberapa menit aku merasakan sakit yang luar biasa. Sakit itu perlahan menghilang namun darah yang keluar dari hidung ku tak kunjung berhenti. Tanpa kusadari darah itu menetes di lengan seragam putih ku. Aku tak menyadari itu sampai aku menuju ke kelas.
Aku memulai mengerjakan tugas dari mem Lusi. Saat tanganku ku letakkan di atas meja Lili mengetahui itu.
“Mel lengan baju mu kenapa ada nodanya? Kok merah. Kayaknya itu darah deh ???.” Mencoba menyentuhnya namun segera ku sembunyikan.
“Ooo nggak kok tadi pagi kena caos sambel. Ya udah ya aku ngerjain tugas dulu.”
Mungkin Lili masih penasaran dengan noda dilengan baju ku namun aku tak mau teman-temanku mengetahui apa yang sedang terjadi pada ku .
Bel pulang berbunyi. Aku berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Setelah aku agak jauh dari mereka. Mereka membicarakan sesuatu dan terlihat rahasia sekali. Namun aku tak yakin apa yang sedang mereka bicarakan.
“Kalian tau nggak. Aku tadI lihat darah di lengan baju Melodi!!!.”
“Hah darah !!! nggak mungkin kali Li. Barang kali itu saos sambel ?.”
“Iya kali kamu salah lihat mungkin Li?.”
“Nggak mungkin Za ..Yas!!  terus kalau itu saos kenapa tadi waktu aku mau megang tangannya itu dia sembunyiin??. Pasti itu darah tapi darah siapa juga. Aku lihat saat dia mau ke kamar mandi lengan bajunya bersih-bersih aja kok!!!.  Masa abis dari kamar mandi ada sih.”
“Kamu kira Melodi vampir apa ngisep darah??”
“Kebanyakan liat twilight shih kamu jadi halusinasnyai kamu bawa ke Melodi??”
“Dibilangin nggak percaya. Ya udah..”
    Septian sudah menungguku di depan gerbang. Aku menghampirinya. Ku lihat dia membawa sesuatu di tangan kanannya. Aku tak tahu secara pasti karena dari kejauhan.
“Eh Melodi ,,!!!”
“Kamu mau ngomong apa?? Aku nggak punya banyak waktu tugas ku banyak jadi cepetan ya??”
“Iya iya sabar dikit kenapa?? Sebenernya.... karena ini terlalu penting  jadi aku tulis aja di surat ini.”
 Belum sempat aku mengambilnya aku melihat Ditya berjalan di depan ku. Dia menatap Septian dengan pandangan sinis seakan dia menyimpan dendam dengan Septian. Lalu aku membuyarkan suasana yang membosankan ini.
“ Mana ??.”
“Oo ya ni, baca ya jangan sampai nggak di baca?”
“Bawel.”
Aku segera melanjutkan langkah ku untuk pulang. Dan terdengar sayup-sayup dia berbicara. Namun aku tak memperdulikan itu.



Part 2
Saat sampai dirumah. Aku membuka surat dari Ditya dan Septian. Aku bingung harus buka yang mana terlebih dahulu daripada pusing lebih baik ku buka dua duanya sekaligus. Aku membaca surat dari Ditya terlebih dahulu.
Hi mel...
Before ... i don’t know to start this where... but i want to the point “i like n very love  you” would you be girlfriend? Everyday i’m always think about you ,i’m fussy to eat ,i’m fussy to sleep. You always haunting me in my dream,your face always come and you smille  to me.
Mel can you hear my heart? Can you give me mean about this? Do you know? Your smille is my happiness , your  sad is my hurt,and your cry is my death. Mell... please ..do you  feel same case? I’m serious...
                                                                                             Waiting your reply  
                                                                                                Who loves you
Surat ke dua dari Septian
Yang tercinta
Melodi
            Ketika memandang keindahan malam aku melihat paras mu ,di langit yang penuh dengan kilauan bintang ,, ketika aku membaca ayat ayat-Nya dan sedang menjalankan perintah-Nya aku merasakan kamu di samping ku,ketika ku terbangun dari tidur ku aku membuka jendela kulihat kau berlari di depan ku dan melambaikan tangan kepada ku.
            Melodi nama mu menggetarkan irama jantungku ,merasuk dalam fikiran ku dan terukir di hati ku. Saat itu aku terbangun dari mimpiku bahwa aku terlanjur menyayangi dan mencintai mu. Maukah kamu menjadi selir hati ku untuk sepanjang waktu ku..??
                                                                                                Yang menyayangimu
Aku tak berekspresi  melihat surat-surat dari mereka berdua. Lalu ku selipkan itu di lebaran buku dairy ku. Aku memandang itu hal yang tak memilki arti sama sekali dan itu sangat membosankan bagi ku. Lalu tiba-tiba terpikir dalam benakku untuk berbicara ke ibu atau tidak. Kejadian yang menimpa ku akhir-akhir ini. Tetapi aku takut jika memang ini penyakit. Aku akan menyusahkan orang tua ku dan bisa jadi biayanya sangat mahal. Aku tak ingin meyusahkan mereka terus. Mereka selalu memberikan apa yang menjadi kebutuhan ku. Apa yang aku minta dan apa  yang aku inginkan selama ini. Aku tak mau membenani mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk merahasiakan ini dari siapapun.
Disaat aku sedang terhanyut dalam aliran halusinasi ku. Ponsel ku berbunyi ternyata Reyza .
“Assalamualaikum ... hallo Mel kamu lagi sibuk nggak?.”
“Waallaikumussalam.. kebetulan nggak Za. Ada apa memangnya?.”
“Temenin aku yuk!!! Ke toko buku. Lagi boring nich di rumah mending jalan-jalan refresing.”
“Ya bentar yach aku datang setengah jam lagi.”
“Ok aku tungu yach??.”
“Iya.”
Aku bergegas pergi kerumah Reyza. Saat di tengah perjalanan aku menabrak seseorang. Emosi ku hampir meledak tapi aku tak seharusnya seperti itu karena saat itu aku juga yang salah. Aku tidak memperhatikan langkah ku. Aku terjatuh dan dia bertanya pada ku. Sepertinya aku mengenal suara itu. Ketika aku melihat ke atas. Ternyata itu Septian. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Tanpa ku sadari pikiran ku melayang  melihat wajahnya. Seperti ada sihir yang membuatku tidak sadarkan diri. Dia  menegurku sekali lagi dan seketika lamunan ku  buyar .
“Owh ... aku nggak papa. Maaf ya aku tadi nggak sengaja nabrak kamu.”
“Iya nggak papa kok Mel nyantai aja. Lagian juga nggak saki.  Kamu mau kemana kok kayaknya buru-buru sekali sih??.”
“Aku mau ke rumah Reyza .” lalu aku melirik arloji aku hampir telat dan tandanya aku harus mengakhiri percakapan singkat ini.
“Maaf yach aku ditunggu sama Reyza.”
“Eeh bareng aja kita kan sejalur .”
“E..emm.. ya !!”
Setelah beberapa langkah suasana menjadi hening. Hanya terdengar kicauan burung dan semilir angin yang berhembus mengiringi langkah kami berdua. Tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami . Aku tak mampu memandang matanya sesekali. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tetapi aku tak mampu seakan mulut ku ini terkunci dan kuncinya hilang entah kemana. Namun diantara keheningan ini ternyata dia yang pertama memecah kecanggungan ini. Dia menanyakan sesuatu dan mencoba menghentikan langkah ku. Dia menanyakan surat yang ia berikan tempo hari kepada ku.
Aku terdiam beberapa saat. Mau tidak mau aku harus menjawabnya .
“Ian sebelumnya aku minta maaf banget. Mungkin jawaban ku ini nggak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Aku nggak mungkin suka sama kamu aku hanya menganggap kamu sebagai temanku yang terbaik. Teman yang selalu ada buat ku. Kamu terlambat dengan semua ini.  Hati ku tidak dapat merasakan rasa itu kembali.”
“ Tapi aku nggak peduli degan apa yang kamu katakan saat ini Mel. Aku tak akan gentar dengan semuanya.”
“Maaf tapi aku harus pergi. Kita bahas lain kali yach kalau ada waktu”
Aku melanjutkan langkah ku namun dia masih tertegun dan masih memandangi ku menjauh darinya. Sebenarnya aku pernah menyukainya tetapi aku harus konsisten dan mencoba untuk menekan rasa ini. Agar depresi ku hilang sepenuhnya. Pagar rumah Reyza telah terlihat aku masuk kedalam. Reyza telah menunggu agak lama. Itu semua terlihat dari raut wajahnya yang sedikit tak bersemangat. Aku mencoba tersenyum kepadanya dan kekhawatiran ku mulai sirna saat dia membalas senyuman ku. Tanpa basa-basi kami menuju halte bus. Di dalam bus ia menanyakan sebab ku terlambat. Aku menceritakan semua yang terjadi. Dia menyarankan agar aku bisa mebuka hati ku untuk cowok lain.
“Mel relakan Adit tenang di alam sana. Biar lah dia bisa melihat kamu bahagia bersama orang lain.”
“Seandainya kalau dia nggak mati. Mungkin saat  ini aku masih bisa memaafkan semua kesalahannya dan masih mempertahankan hubungan ku. Walau dia udah nyakitin aku di depan mata ku sendiri.”
Harapan ku. Aku dapat merelakan masa lalu ku. Masa lalu ku yang indah lalu berubah menjadi kesedihan yang mendalam karena dia pergi membawa cinta ku untuk selamanya. Dia tega membiarkan aku sendiri.  Aku masih mempertimbangkan apa yang Reyza bicarakan .
Aku dan Reyza turun dari bus dan sampai di toko buku. Kami berpencar untuk melihat-lihat buku. Langkaku menuntunku ke deretan novel remaja. Aku tertarik dengan sebuah buku. Ketika aku mengambil buku itu seseorang didekatku juga mengambil buku yang sama. Aku memarahinya tanpa melihat wajahnya. Saat aku memalingkan wajahku menatap wajahnya ternyata itu Ditya. Dia memandang ku namun aku berusaha melepaskan genggaman tangannya lalu ia mulai tersadar.
“Oh sorry sorry terlalu terhanyut dengan keadaan.”
“Iya nggak papa.”
“Sendirian aja. Makan yuk!!.”
“Ooch nggak-nggak aku sama Reyza .”
Lalu Reyza mendekati ku dari belakang.
“ Ooch Ditya ternyata.”
“Udah-udah kamu udah dapet bukunya ??. Ayo pulang!!!.” aku menarik tangan Reyza dan mencoba menghindari Ditya.
“Kamu kok gitu shih mel. Kapan kamu bisa buka hati kamu buat cowok lain. Dan merelakan kepergian Adit”
“ Aku nggak bisa Reyza aku nggak bisa.Tanpa terasa air mata ku terjatuh. Kamu nggak akan pernah bisa merasakan apa yang pernah aku rasakan. Sakit Za!! sakit banget rasanya. Kenapa disaat aku mencinta mereka tak pernah serius mencintaiku dan pergi tanpa meminta maaf untuk selama-lamanya. Tapi kenapa saat aku telah terjatuh dan susah untuk bangkit. Aku terperosok sedalam-dalamnya mereka bersusah payah untuk menyelamatkan ku ?? apa itu tidak terlambat namanya .. tiap detik, tiap menit, tiap jam,bayangkan Za. Aku bersusah payah untuk merelakan masa lalu ku yang pahit dan memaafkan semuanya tapi apa?? sakit itu menjadi bumerang bagi ku untuk membenci setiap laki-laki... dan........ aaa...aaa....acch aaaachh aduh ..”
“Kamu kenapa Mel??. Mel jangan bkin aku khawatir dong.”
Perut ku sangat mual. Aku muntah-muntah lalu aku pingsan. Reyza membawa ku ke rumah sakit. Aku tersadar dari pingsan ku. Selama aku masih diruang perawatan tiba-tiba pandangan ku kabur dan kepala ku masih pusing. Beberapa saat kemudian terdengar sayup-sayup beberapa orang yang menangis disamping ku. Aku mencoba menbuka mata ku. Namun sepertinya mata ku masih enggan membantuku melihat secara jelas siapa yang berada di dekat ku .
Setelah aku mencobanya berkali-kali. Aku berhasil membuka mata ku dan melihat dengan jelas. Ternyata itu teman-teman ku dan kedua orang tua ku. Ku lihat ibu menangis tersedu di sampingku. Nampaknya ibu tidak bisa mangatakan apapun tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ku. Lalu ku alihkan perlahan pandanganku kesamping kanan ada sahabat-sahabat ku yang menangis tanpa henti. Tanganku sulit sekali untuk ku gerakkan.
Semula aku ingin tersenyum dan mencoba untuk menegarkan mereka semua. Tetapi semuanya telah sirna. Aku hanya bisa menangis dengan keadaan ku saat ini yang bagaikan mayat hidup tanpa ada yang bisa aku lakukan sama sekali. Aku sangat terkejut semula aku sehat-sehat saja dalam hitungan jam aku terkapar. Seperti malaikat maut menanti ku. Aku mencoba untuk menggerakkan tangan ku. Tyaz menangkap apa yang aku perlukan saat itu lalu tangan ku diselipkannya sebuah pena dan selembar kertas kosong. Lalu aku mencoba menulis sesuatu ... Ketika ibu melihat tulisan ku yang jauh berbeda dengan tulisan ku sebelumnya. Dia tidak kuat menahan tangis. Akhirnya ibu berlari keluar lalu ayah mengikutinya. Lalu aku melirik Reyza. Dia terlihat tidak kuasa mengatakannya dia hanya menangis dan menangis. Aku melihat ke arah Lili. Terlihat dia menggelengkan kepala. Kunci terakhir ada pada  Tyaz. Dia mencoba mengatakan. Sepertinya lebih baik dalam bentuk tulisan(kamu divonis dokter mengidap penyakit kanker otak stadium lanjut). Aku membaca tulisan itu seperti ada petir yang menyambar tubuh ku hingga tak bernyawa. Menggelegar menyambar-nyambar dan seperti harapan ku selama ini terhantam oleh badai dahsyat. Aku ingin teriak sekeras yang aku bisa. Aku tak kuasa dengan keadaan ku yang terkapar saat ini. Aku ingin melampiaskan kemarahan ku melampiaskan kesedihan,kepasrahan,dan kelemahan ku saat ini. Namun itu hanyalah sia-sia semata.
Penyakit ini tidak menular namun dapat mematikan penderitanya karena sel kanker cepat sekali pertumbuhannya. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan namun bisa memperpanjang hidup penderitanya dengan melakukan terapi
“ Melodi kamu besok harus terapi  jadi kamu harus istirahat yang cukup”

“Melodi kamu nggak boleh bicara kayak gitu Mel. Ini juga demi kebaikan kamu .”
“Iya mel kita semua belum siap bila harus kehilangan kamu secepat ini. Kami menyayangimu mel.”


part 3
Aku belum bisa menerima semua ini. Akibatnya beberapa hari terakhir keadaan ku semakin memburuk. Lebih buruk dari sebelumnya. Penyakit-penyakit baru timbul. Semua teman ku tidak tega melihat keadaan ku yang semakin kritis. Mereka mencoba untuk membujukku mengikuti terapi. Awalnya aku masih mengelak. Lama- kelamaan penyakit ini sangat menyiksa. Sedikit demi sedikit menggerogoti semangatku untuk terus berjuang melawannya. Hingga akhirnya aku menuruti perkataan mereka.
Setelah satu bulan lamanya aku berada dirumah sakit. Kesehatan ku membaik. Walau aku harus rajin mengikuti terapi dan meminum obat yang dulu menjadi musuh sekarang menjadi sahabat setia ku.
Pagi itu aku mengawali aktifitas yang selama ini terganggu karena penyakit ku ini. Rasanya aku seperti murid baru di sekolah ku sendiri yang sudah 2 tahun mengantarku untuk meraih masa depan gemilang ku. Setiap aku melangkah semua yang berada didekatku melihat dengan tatapan iba. Seakan aku manusia termalang di dunia. Air mata yang selama ini enggan keluar kini tidak segan-segan untuk menetes. Lalu ke 3 sahabat ku menjemputku dan membantu menopang tubuhku yang tidak sekuat sedia kala. Seaakan mereka merasakan penderitaan yang sama.
Saat aku memasuki kelas aku sangat terkejut. Aku sangat terharu melihat teman-teman sekelas ku menyerbu dan berebut untuk dapat memelukku. Mereka semua membawakanku hadiah hingga aku tak kuasa menahan tangisan haru. Selama ini aku kira mereka teman-teman yang sangat cuek dan tidak peduli dengan ku karena sifatku yang cuek dengan mereka semua. Namun saat itu aku keliru. Aku telah merasakan suatu kebersamaan yang tak pernah ku dapatkan selain dari 3 sahabat ku sendiri. Tangisan ku semakin keras karena aku terbayang bila dalam waktu yang singkat. Aku akan pergi meninggalkan mereka semua ,meninggalkan kasih sayang mereka,meninggalkan dukungan dan semangat mereka untuk memberikan semangat ku untuk hidup dan berjuang melawan penyakit mengerikan ini.
Ditengah-tengah suasana yang campur aduk ini. Tiba-tiba ada keributan di luar kelas ku. Karena aku sulit untuk berdiri ke 3 sahabatku senantiasa dan senang hati membantuku berdiri melihat keributan yang terjadi.
Ternyata itu Septian dan Ditya. Reyza menyerahkan aku kepada Lili dan Tyaz karena dia mengetahui persoalan apa yang membuat Septian dan Ditya berkelahi.
“Stop hentikan ... kalian ini seperti anak kecil saja pernah nggak kalian berfikir?.  Dia malu tau nggak direbutin kalian berdua di depan orang banyak kayak gini. Hello0o. . . sadar nggak kalian ini sekolah bukan arena berkelahi.”
“Dia nich yang mulai duluan. Gue yang pertama kali ngedeketin Melodi malah dia yang selalu cari perahatian sama Melodi. Balik aja sono sama mantan lo yang sok cantik itu.”
“Hey bray jaga omongan lo yah.”
“Stop mau kalian ini apa shih heee?? Asal kalian tau ya kalau si Melodi itu lagi sakit. Dia divonis dokter mengidap kangker otak stadium lanjut  dan sel kankernya udah menjalar kemana-mana. Umurnya tinggal beberapa minggu lagi dan dia makin menderita kalau sampai dia lihat kalian yang nggak gentle jadi cowok.”
“Apa? Melodi terkena kanker ??. Sekarang dimana dia??”
“Di kelas. Mau ngapain kalian??”
Lalu mereka berdua berlari menemui ku. Namun saat itu penyakit ku datang lagi kepala ku pusing. Aku muntah-muntah dan pandangan ku kabur. Aku semakin lemah dan terjatuh. Aku segera dilarikan kerumah sakit. Aku mendapatkan perawatan yang intensif dari pihak medis. Keadaan ku sangat kritis denyut nadi ku sangat lemah.
“Andaikan saja kita tau keadaan Melodi yang sebenarnya. Kita nggak bakal memperparah keadaannya sekarang.”
“Gue minta maaf sama lo. Semenjak kita menyukai Melodi. Andaikan saat itu di antara kita ada yang mengalah untuk merelakan buat dapetin Melodi. Mungkin dia nggak bakalan kayak gini. Dan gue ngerelain lo sama Melodi. Bahagiakan dia Ian”
“Iya gue maafin lo kok Dit. Kita saling ngutamain ego kita masing-masing dan akibatnya persahabatan kita yang hampir 2 tahun ini hancur hanya gara-gara kita menyukai cewek yang sama. Terima kasih ya?”
“Sama-sama.”  Reyza mendengar kata-kata mereka berdua lalu ia muncul dari belakang mereka berdua
“ Aku seneng liat kalian yang akur lagi .”
“Maafin kita juga ya Za??.”
“Iya gue maafin kok. Tapi kalian harus meminta maaf kepada Melodi karena dia yang seharusnya memberi maaf kepada kalian.”
“Iya.. pasti Za.”
Selama 3 jam aku kritis lalu aku tersadar dan saat itu disebelah kanan ku ada Septian dan di sebelah kiri ku ada Ditya. Mereka tertidur dan seraya menggenggam erat tangan ku yang tak berdaya ini. Ku coba untuk menggerakkan jemariku dengan harapan aku dapat membangunkan mereka. Akhirnya mereka berdua bangun mereka meminta maaf kepada ku namun aku telah memaafkan mereka dari dulu. Mereka saling menanyaiku apa yang aku mau. Aku hanya ingin minum. Mereka berdua adu cepat sehingga gelas yang membawa seteguk air ku pecah untungnya saja ada beberapa air mineral. Mereka saling membawakannya untuk ku minum. Karena aku bingung akhirnya aku meminumnya satu persatu dari botol yang mereka bawa.
Mereka tak pernah absen untuk selalu mengunjungi ku di Rumah sakit. Secara bergatian mereka mengajakku berjalan-jalan dengan mendorongku di kursi roda. Seakan mereka tidak pernah lelah untuk menjadi malaikat penjaga ku. Seumur hidup ku aku tak pernah merasakan hal yang sangat membuat ku seberuntung ini.


 Hari itu jadwal ku berjalan-jalan dengan Septian.  Dia mengajakku ke sebuah taman belakang rumah sakit yang belum pernah ku jumpai sebelumnya. Saat itu pukul 16.30 WIB. Tak pernah ku duga pemandangan disini sangat menakjubkan karena aku dapat melihat matahari terbenam
yang menyelinap di balik perbukitan.
.Aku merasakan tangannya mengusap lembut rambut ku dan dia membisikkan  sesuatu disampingkuu.
“Ketahuilah kamu mel.... selama kamu tak lagi secantik saat pertama kali ku temui...tak seceria saat ku perhatikan diam-diam di tempat dudukku waktu di kelas...tak dapat lagi tersenyum ketika aku membantu mu membawakan tumpukan buku-buku perpustakaan... dan semua hal yang menakjubkan yang ada pada dirimu...
Aku akan tetap menyayangi mu dan selalu menganggap kamu ada dalam hati. Karena itu sebabnya aku mencintaimu..”
          Aku sangat terkejut dia menggendongku dan menidurkanku dalam pangkuannya. Aku meminta sebuah kertas padanya dan mencoba menulis sajak-sajak yang terbayang dalam pikiranku.
          Sebuah hal  kecil...
Yang tak ku yakini akan kekuatannya...
Yang  pernah ada  di dalam hidup ku...
Yang  pernah memberikan warna dalam hidup ku...
Yang sampai saat ini adalah sebuah hal mustahil  untuk ku genggam kembali
                                 
Hilang ...
Sirna ... ketika ku tatap matanya
Ketika ku tanya mengapa?
Ia tak bergumam ..
Membisu seribu bahasa ..
Lalu...

Ia datang ....
 Menjelma menjadi sebuah alunan...
Alunan merdu bait bersajak ..
Sebuah melodi menjebak
Menjebakku dalam pilihan yang rumit
Antara kamu dan dia...

Terima kasih   ...
Untuk segalanya..
Nampaknya peri-peri ..
Bunga-bunga ...
Nyanyian surga .. telah menanti kedatangan ku..

Terima kasih ...
Untuk sebuah hal kecil ...
Sebuah hal kecil yang disebut  CINTA

          Terakhir kali ku tatap mata Septian yang terlelap karena keletihannya menjaga ku. Aku tersenyum akan hal itu. Aku ingin menangis karena aku tak dapat lagi melihat senyumnya yang manis, melihat kepedulian yang selalu ia berikan kepada ku. Melihat semua hal tentang dirinya. Namun aku mulai tersadar dan aku harus pergi meninggalkan “CINTA” ku untuk selamanya.
          Selamat tinggal ayah.. selamat tinggal ibu... selamat tinggal sahabat-sahabatku...selamat tinggal “CINTA” perlahan mata ku terpejam untuk selamanya. “CINTA” ku mungkin tak kan pernah tersampaikan. Semoga kalian mendapatkan cinta yang lain yang lebih memberikan sebuah kebahagiaan di hari nanti. Aku akan mengejar cinta ku yang kekal di alam sana. Izinkanlah aku menjadi kenangan yang terindah dalam hidup kalian semua. Kalian adalah hal yang terbesar yang pernah ku miliki dan kini aku percaya akan kekuatan “CINTA” .

By : emilda

Available link for download

Read more »

Wednesday, January 25, 2017

Cerpen Cinta Romantis Patah Hati

Cerpen Cinta Romantis Patah Hati


Sengaja aku persembahkan sebuah karya cerpen yang terukir dalam hati hanya untukmu.

Sebenarnya Masih Ada Rasa Sayang


              Telah kualami selama ini cerita cinta bersama seorang wanita yang sebenarnya selama ini masih kusayangi. Sebetulnya jauh hari aku sudah mengenal dirinya. Sewaktu kelas VIIIaku sudah mengenalnya yang memiliki ciri khas yaitu suaranya yang keras. Perilakunya masih sama yang dulu hanya berbeda dalam sektor fisik saja yang menurutku dirinya manis J. Saat awal” tidak ada rasa yang berarti dalam hatiku terhadap dirinya, namun setelah mendapati sebuah tugas Bahasa Indonesia dari Pak Abi yang disuruh meresensi novel. Dia mengajak diriku untuk membeli sebuah novel ke matahari tepatnya di Madiun. Waktu itulah timbul rasa senang diriku terhadap dirinya. Naik motor begoncengan bersama menuju Madiun. Tersemat canda dan tawa :D. Itu memang baru awal saat” aku bersama dia menjalani kehidupan yang akan aku teruskan dengan penuh pengorbanan rasa cinta kedepannya. Belum genap 1 minggu pada malam jum’at dia mengajakku keluar. Katanya dia ingin latihan nari. Senang hati ini girang – gemirang rasanya. Aku hampiri dia di rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya. Itu hal biasa terjadi. Aku mendapat titipan dari orang tuanya untuk hati – hati dan menjaga dia. Siap kataku. Sebelum ketempat yang dia tuju, aku menawarkan untuk putar” kota Ponorogo terlebih dahulu dan dia menjawab iya. OK. Saat perjalanan kita saling ngobrol berbagi tips dll dan akhirnya dia menuruhku untuk mengantarkannya ke tempat dia berlatih tepatnya di kelurahan (belakang tirto wening). Kutunggu sms darinya sambil ngopi di tempatku biasa aku nongkrong dengan teman”ku. Waktu itu sudah beranjak malam dan dia mengajak aku untuk mengantarkan dia pulang. Saat aku sampai di tempat dia berlatih. Dengan tidak sengaja aku mendengar perbincangan dia dengan seorang lelaki yang mengutarakan sebuah kalimat “kamu diantar pacarmu ya...”. Dia menjawab “nggak, aku ini sama temanku ye...”. “lihat saja nanti” kataku dalam hati. Terus dia menghampririku dan langsung beranjak pulang ke rumahnya. Cintaku terus berlanjut dengan sms yang manis bila terucapkan dan didengar oleh telinga. Tak tereasa hati ini sudah bergeming ingin sekali merasakan hangat suasana cinta. Waktu itu aku berada di Wonogiri dan dengan tidak sengaja aku memikirkan sebuah hadiah untuk dirinya. Saat itu aku memberinya hadiah pertama dariku yaitu sebuah kalung silver. Dia mulai curiga dan aku heran mengapa dia mengutarakan kata “kamu sayang ya sama aku?” dan kujawab “hanya pecundang yang pergi dari masalah ini, aku itu sayang padamu”. Pertnyataan ini yang membuatku terasa sakit setelah aku menjawab pertanyannya “maaf aku masih butuh waktu banyak dalam hal ini dan lebih baik kita berteman saja”. “Mengapa kau utarakan kalimat itu padaku, aku ini cinta tulus kepadamu” jawabku dalam hati yang hanya bisa diam.

              Itu baru awal rasa sakit yang kua alami. Yang kedua ini lebih sakit saat aku memberinya lagi sebuah hadiah berupa bros jilbab kesukaan ibuku. Dia menolak hadiah tersebut dan dia kembalikan hadiah itu padaku. Tak sengaja bros itu jatuh dan aku tidak bisa meraihnya karena aku waktu itu naik motor. Kemudian dia ambil hadiah itu dan bilang terima kasih. Hah, lelah mengingat hal ini yang membuat hatiku hancur. Sebenarnya aku belum tau apa maksud dia menolak hadiahku. Setelah mendapati sebuah cerita dari teman wanitaku ternyata dia benar - benar tidak mau menjalani sebuah hubungan cinta dengan diriku. Hah, kuatur nafas ini unutuk menerima segala takdir yang kualami. Semenjak itu aku tidak lagi dekat dengan dirinya. Aku mencoba untuk menjauh dan melupakannya tapi itu terasa sangat sulit. Rasa sayang itu masih menempel di hatiku walaupun aku sekarang sudah berhubungan asmara cinta dengan orang lain (LDR). Dan kuketahui dirinya kelihatannya menyukai lelaki yang berinisial B. Memang sudah lama dia dekat dengan dirinya, tapi entahlah aku tak peduli lagi. Sudah kesal hati ini memikirkannya. Kecewa pasti kecewa, tapi terus aku harus gimana lagi. Kenyataannya sudah begitu. Tak bisa diulangi kembali.

              Satu hal ingin sekali aku omongkan terhadapmu yaitu tolong hargai semuanya dan hilangkan rasa labilmu kalo bisa jangan ada yang kau lukai setelah kau menerima perkataanku ini.


              Ini kata terakhirku kepadamu terima kasih atas segala perhatianmu yang kau berikan kepadaku selama ini. Aku hanya bisa mengucapkan aku bahagia bila kamu juga bahagia walaupun tak bersamaku walaupun kau bersama orang lain aku tak peduli yang penting jalani hidupmu gapailah dulu anganmu di masa depan dengan rasa cinta.


Available link for download

Read more »

Monday, December 12, 2016

CERPEN SUNDA SINGKAT

CERPEN SUNDA SINGKAT


malem gan nih gue punya sesuatu buat kalian, gue juga nyari buat tugas bahasa sunda bukan bikinan gue sihh gue juga ngopas dari tetangga, ya gue cuma memberi kemudahan aja,,


Cipeucang


Kacatur kacaritakeun cak kolot, dihiji tempat anu ayana di Kabupaten Bekasi, Kecamatan Bojongmangu, Desa Sukamukti aya hiji lembur nu ngarana Cipeucang. Kunaon eta lembur teh dingaranan Lembur Cipeucang, cak kolot baheula diieu lembur teh loba sasatoan terutama Peucang, Sato bangsaning embe anu awakna letikan ti embe.
Di ieu tempat teh aya cai anu ngocor titungtung kidul nepi tungtung kaler nu di sebut Cipamingkis. Tah di Cipamingkis ieu bangsaning sasatoan ngarinum terutama Peucang. Kusabab cai teh jadi tempat kahirupan mahluk anu harirup sato, tatangkalan oge jalma kabeh ngabutuhkeun cai.
Tah kusabab kitu ieu Lemburteh dingaranan Lembur Cipeucang. Asalna tina ngaran sato nyaeta Peucang jeung cai anu ngalir di eta tempat, Ci = Cai anu ngalir di eta tempat, Peucang = sato anu loba baheula didinya. Disebut weh Cipeucang.
Nepikeun kiwari oge masi aya keneh Cipamingkis anu ngalir di Cipeucang, jeung masi loba jalma lamun usum halodo kacarainateh ka Cipamingkis eta.
Jeung hiji deui di ieu lembur teh lahir saurang jajaka nu ganteng ngalempereng koneng loba nu resep jeung nu bogoh. Tepatna kaping 16 sasih Mei warsih 1987 di lahir keunana. Dugi ayeuna eta jajakateh aya keneh ayeuna kuliah di UPI Kampus Purwakarta nu jenenganana Ojim Suryana tea.

Siluman


Jaman baheula dihiji tempat/werwengkon didinya teh kacaritakeun lembur anu kacida sarienen nana jelema ngaliwat kadinya, yen beja didinya ari peting tara aya lampu, pokona paroek jeng loba begal. Lamun aya jalma peting-peting liwat kandinya cak beja sok dicegat garong/begal pokona sakumaha harta nu dibawa ku jalma teh kudu dibikeun ka garong lamun hente diancam bakal dipaehan atawa disiksa.
Caritana yen brgal/garong anus sok nyegat ditempat etateh nyaeta jalma anu cicing di tempat eta, penduduk didinya kusabab kitu jalma sarieuneun liwat kadinya teh. Jeung deui anu jalma anu nempatan tempat eta teh jaragoan utamana jago kadugalan.
Kusabab kitu jalma nyarebutna eta tempat Siluman, lembur Siluman terusnamah.
Eta tempat teh aya di Kabupaten Subang, Kecamatan Pabuaran. Tah ayenamah Silumanteh jadi ngaran Desa nyaeta Desa Siluman. Da ayeunamah aman biasa wae kos daerah nu sejenna eweuh begal eweuh garong, kecuali katukangeun lembur etateh aya trotoang panjang da nepi ayeunage sok sarieuneun jalma liwat kadinya tipeuting mah.
Tah kitu caritana kunaon eta tempat teh disebut Siluman, nu ayeuna Desa Siluman.

Kuya Ngagandong Imahna


Jaman baheula aya Kuya imah-imah di sisi muara. Gawena ngahuma, ngahumateh indit isuk datang sore magrib.
Hiji poe Kuya keur di huma, aya hujan geode bari jeung angina. Tatangkalan rarungkad imah Kuya oge kaapungkeun murag ka leuwi brus ti teleum. Sakadang Kuya sedih kacida, isukana manehna ngieun dei anu leuwih keker supaya te kabawa angina.
Hiji poe manehna balik ti hima, Kuya teh masak pikeun dahar sore. Sabot masak Kuya kacai hela, keur di cai katingali hasep ngebul dina suhunan imahna ku Kuya diburu tapi imah geus angus seneuna gede nakeranan. Kuya teh ceurik.
Keur kitu jol bae Monyet kolot. Monyet ngomong ka sakadang Kuya, “tong ceuri sakadang Kuya ngieun deui imahmah!”
“Anu matak sakadang Monyet lain sakali wae kacilakaan imah teh bareto kabawa angina. Kudu kumaha akalnanya supaya imah awet?” cak sakadang Kuya! Sakadang Monyet ngajawab, “gampang atuh, ngarah imah ulah cilakamah dibawa bae, ulah ditinggalkeun. Pek ngieun dei anu alus tur kuat ke lamun geus anggeus arang tangkodkeun kana tonggong anjeun, pantone sakira asup sirah supaya gampang ngelokeun sirah ka jero.
Eta papatah teh ku Kuya diturutkeun, saenggeus anggeus prak ditengkodkeun dina tonggongna, monyet anu memenerna. Nah ti haritamah imah sakadang Kuya teh sok dibabawa bae, digagandong.
Rincian Dongeng:
- Judulna : Kuya Ngagandong Imahna
- Bahasana : Kasar
- Palakuna : Sakadang Kuya jeung sakadang Monyet
- Watek palakuna :
Sakadang Kuya = Getol daek digawe, gampang putus asa an, te kuat kena musibah.
Sakadang Monyet = Daek babantu jeung mere saran
- Tempat/latar : Baheula dihiji kebon deket walungan
- Eusi/hikmah nu bisa di cokot :
Jadi jalma kudu getol kos sakadang Kuya tapi tong gampang putus asa jeung tong bodo. Jeung kudu daek babantu ka batur kos sakadang Monyet.

Hayam Kongkorongok Subuh


Kacaritakeun jaman baheula aya oray naga geus lila ngalamun hayang nyaba ka kahiyangan. Unggal isuk eta oray teh osok dangdan mapantes maneh. Tapi keukeuh teu ngarasa ginding lantaran teu boga perhiasan, mangkaning arek ngadeheus ka dewa.
Sanggeus mikir manehna inget ka sobatna sakadang titinggi, maksudna arek nginjeum tanduk ka sakadang jago haritamah jago teh aya tandukan menta di anteur ka titinggi. Sanggeus aprok dicaritakeun sakabeh pamasalahan naga ka jago. Maksudnamah nginjeum tanduk ka jago, engke dianteurkeuna deui ku sakadang titinggi cak sakadang naga.
Hayam jago teu nembalan lantaran apal jahat jeung licikna naga. Lila-lila naga ngarayu, jago oge merekeun tandukna ka sakadang naga. Cak naga ka jago “engke tandukna dibalikeun deui dianteurkeun ku titinggi samemeh balebat, lamun balebat can balik wae bisi kaula poho ngawangkong jeung dewa, anjeun mere tanda weh kongkorongok sing tarik.”
Geus kitumah jung weh naga jenug titinggi the arindit. Isukna samemeh balebat hayam jago kongkorongok satakerna. Sakali dua kali titinggi teu datang wae, terus jago teh kongkorongok sababaraha kali deui, tapi tetep titinggi teu dating keneh bae. Nepi ka brayna berang titinggi teu datang-datang.
“Keun sugan cenah peuting engke” pok hayam teh. Tapi weleh ditunggu nepi kasubuh titinggi teu dating keneh wae. Pohara ambekna hayam jago nepi ka nyancam lamun titinggi dating arek di pacok nepikeun ka paehna.
Ti harita hayam jago teh tiap-tiap subuh kongkorongok sarta mun papanggih jeung titinggi sok langsung dipacok nepi ka paehna, males pati dumeh kungsi ngabobodo.
Rincian Dongeng:
- Judulna : Hayam Kongkorongok Subuh
- Bahasana : Kasar
- Palakuna : Hayam Jago, Titinggi jeung Oray Naga
- Watek palakuna :
Oray Naga = jahat, sok nipu, teu sukur, sok hayang nu batur.
Titinggi = Daek wae di titah sanajan salah, teboga pamadegan.
Hayam Jago = Babari percaya, gampang dibobodo.
- Tempat/latar : Hiji tempat jaman bahela nyaeta di leuweung
- Eusi/hikmah nu bisa di cokot :
Ari hirup teh ulah sombong, adigung, ulah sok nipu, jiga Oray Naga. Ulah sok daek wae di titah lamun salah jiga Titinggi. Ulah gampang di bobodo bisi kaduhung, ulah gampang percaya ka jalma jiga sakadang Hayam Jago.

Cai Laut Asin


Kacatur jaman baheula aya dua jalma adi lancek. Nu cikal ngarana Jana, ari nu bungsu Jani.
Ki Jana ka asup jelema benghar, lega sawah lega kebon. Tapi koret, tara barang bere jeung tutulung. Tapi Ki Jani mah bari jeung miskin oge ari boga rejeki teh sok mere kanu butuh.
Hiji poe Ki Jani nginjem beas ka Ki Jana tapi manan dibere malah dicarekan. Untung pamajikan Ki Jana karunyaeun. Susulumputan ti salakina mere beas ka Ki Jani sacangkir jeung lauk asin. Bari nalangsa Ki Jani balik ditengah jalan aprok jeung aki-aki awakna begang lempangna rumanggieung, atuh karunyaeun diajakan ka imahna. Nepi imah beas dibubur saenggeus asak didalahar bareng. Isuk-isuk keneh aki-aki teh geus pamitan. Memeh indit aki-aki teh mere jimat ka Ki Jani mangrupa lilisungan jeung haluna tina perak. “Naon wae anu dipikahyang ku ujang, sebutkeun wae bari nyebut Tutu! Tutu! Tutu!’tilu kali,” ceuk aki-aki teh, engke tangtu haluna nutu sorangan, sarta anu dipikahayang kaluar tina jero lisung. Ngereunkeunana lisung kudu dibere taneuh saetik.
Gancangna carita Ki Jani geus benghar, tapi tetep resep ngabantu jeung tutulung kanu susah. Barang Ki Jana ngadenge adina beunghar manehna sirik , bari boga niat jahat hayang miboga jimat eta. Hiji peuting Ki Jana datang Ka Jani, ku Ki Jani dicaritekeun kabeh ka Ki Jana carana make lisung. Terus dibawa minggat ku lanceukna ka alas pentas. Mangsa dina kapal geus eweuh uyah Ki Jana menta kalisung uyah kaluar uyah teh teu ereun-ereun, Ki Jana poho teu mawa taneuh. Nepi ka kapalna kelebuh teleum. Ti harita cai laut jadi asin.
Rincian Dongeng:
Tema : Perang Duduluran
Judulna : Cai Laut Asin
Bahasana : Kasar
Alur/plot : Ngagunakeun alur maju
Cara Nyarita/ Sudut Pandang : orang ka 3 palaku utama
Palakuna : Dua urang adi lanceuk: lanceukna Ki Jana, Adina Ki Jani.
Watek palakuna :
Ki Jana = Sarakar, koret, embung tutulung kanu susah.
Ki Jani = Bageur, berehan, daek tutulung kanu susah.
Tempat/latar : Jaman baheula di hiji lembur.
Eusi/hikmah nu bisa di cokot :Jadi jalma ulah koret jeung jahat, siga Ki Jana anu tung-tungna bakal cilaka. Kudu kos Ki Jani bageur sok daek nulungan batur, hirupna jadi senang tur tentrem

Selat Sunda Jeung Gunung Krakatau


Kacatur jaman baheula di Pulo Jawa Beulah kulon, aya hiji karajaan anu rajana Prabu Rakata. Sang Prabu gaduh dua putra. Anu cikal Raden Sundana anu bungsu Raden Topobrana. Haritamah Pulo Jawa sareung Sumatra teh ngahiji.
Kumargi Prabu Rakata parantos sepuh pisan, mangka karajaan teh di titipkeun ka putra-putrana, tur di bagi dua belah wetan ku Raden Sundana, belah kulon Raden Topobrana. Terus Sang Prabu teh indit ngabagawan anu tempatna dibates dua nagara nu dibagi dua tea, anjeunna teu nyandak nanaon tibang guci pusaka nu dicandak. Hiji mangsa dina taun ka genep Sang Prabu teh ngadangu yen putrana parasea Raden Sundana ngarugrug karajaan raina Raden Topobrana. Sang Prabu teh ceg ka guci anu tos dieusi cai laut tea, terus indit ka medan laga kasampak dua putrana keur perang campuh atuh bendu pisan si anjeunanana.
Ningali ramana sumping reg weh perang liren, dua putrana langsung nyampeurkeun cedok weh nyareumbah ka Prabu Rakata kitu dei para parajuritna. Atuh dua putrana beak bersih diseukseukan pampangnaman Raden Sundana nu wani ngarug-gug nagara raina. Dua putrana anu tarungkul teh nyarek, atuh Sang Prabuteh langsung gadeg, ceg kana guci pusaka tea. Terus cai laut anu dina guci dikucurkeun disapanjang wates dua nagara, teras guci anu tos teh kosong teh disimpen ditapal bates dua karajaan tea, anjeunanana indit deui ka tempat pang tapaanana. Teu lami eta bates anu tilas disiram ku cai laut teh ngajanggelek jadi selat. Nu kiwari disebut Selat Sunda. Nu mawi dinamian Selat Sunda lantaran Raden Sundana sarakah hoyong wilayah anu raina. Dugi ramana ngadamel wates nganggo guci pusaka anu caina dikucurkeun terus jadi selat. Tur guci anu disimpen dina wates teh ngajanggelek jadi gunung, nu katelah Gunung Rakata atanapi Gunung Krakatau. Tah kitu sasakala Selat Sunda sareng Gunung Krakatau teh.
Rincian Dongeng:
Tema : Perang Duduluran
Judulna : Selat Sunda Jeung Gunung Krakatau
Bahasana : Lemes
Aur/plot : Ngagunakeun alur maju
Cara nyarita/sudut pandang : orang ka 3 palaku utama
Palakuna : Prabu Rakata, sareng dua putrana: Raden Sundana sareng Raden Topobrana
Watek palakuna :
Prabu Rakata = Arip, adil, tur bijaksana.
Raden Sundana = Sarakah
Raden Topobrana = Embung ditindes
Tempat/latar : Jaman baheula di Pulo Jawa belah kulon.
Eusi/hikmah nu bisa di cokot : Jadi jalma kudu arif, jujur, adil tur bijak sana kawas Prabu Rakata, ulah Sarakah jiga Raden Sundana.

SENIN, 03 MARET 2003

Gagak Jadi Hideung


Kacariotakeun baheula dina hiji tempat aya oray naga keur nawu balong. Sungutna ngegel kana tangkal huni, buntutna dibrlitkeun kana pancuh tambakan beulah dieu. Awakna malang dina balong tea, tuluy di ayun keun goplak, goplak, goplak dipake nawu baloing tea.
Teu kungsi lila balong teh saat laukna sing kocopok loba. Jol datang gagak kadinya haritamah gagak teh buluna bodas ngeplak. Ujug-ujug corokcok weh laukna dipacokan nepi beak lauk nu baradagnamah.
Ku oray sanca katempoen gagak maling lauk, geuwat digenggereuhkeun, tapi gagak ngalah beuki ngahajakeun. Atuh oray ambek sebrut bae diudag gagakteh. Gagak teh hiber kuorang diobrot, gagak teh bingung da diberik wae sieunen katewak. Kabeneran aya nu keur neleum, gebrus bae gagak teh asup ka jero pijanaan. Atuh ari muncul deui teh geus lestreng .
Barang jol oray sanca teh panglingeun, da jadi hideung lestereng. Pok weh oray sanca nanya, “mahlik hideung maneh nempo sakadang gagak teu bieu liwat kadieu?”
Gagak teh sorana digedekeun, ngomongna oge basa Betawi, da sieunen katara, “Engga, gaaaa!”
Tah kitu sasakalana manuk gagak buluna hideung jeung sorana gaaa, gaaaak!
Rincian Dongeng:
- Judulna : Gagak Jadi Hideung
- Bahasana : Kasar
- Palakuna : Gagak jeung Oray Sanca
- Watek palakuna :
Gagak = Badeur, sok daek nyopet, te bisa digenggereuhkeun.
Oray Sanca = Getol, daek usaha, rajin.
- Tempat/latar : Caritana jaman baheula di hiji balong nu loba laukan
- Eusi/hikmah nu bisa di cokot :
Ari jadi jalma teh kudu getol daekan, ulet, usaha lamun hayang bog amah kos sakadang Oray Sanca. Ulah jiga Gagak baong, haying ngenah doing embung gawe.


Available link for download

Read more »

Wednesday, November 30, 2016

Cerpen Cinta Romantis 11 Bunga 1 yang Abadi

Cerpen Cinta Romantis 11 Bunga 1 yang Abadi




 

Pada suatu hari sepasang kekasih yang sudah lama menjalani hubungan, bertengkar sangat hebat sekali. emosi seorang laki-laki yang meluap, mengakibatkan kekecewaan sang wanita semakin membahana dan membuat sang wanita sangat sulit untuk memaafkan kesalahannya. Seribu kata maaf yang terlontar dari lisan sang pacar di hiraukannya tanpa sedikit kata yang terucap dari lisan sang wanita, seolah air yang membasahi lidahnya sudah mengering.

Matahari terlelap, sunyi suasan dan sepi menemani renungannya akan kesalahan yang telah ia perbuat. Tatapan kosong dia lemparkan menuju langit dan berharap cinta bersinar terang menghiasi hari-harinya. Terinspirasi oleh gugusan bintang yang sangat terang, “ia berencana membeli 10 bunga asli dan 1 bunga palsu

Ayam berkokok dan matahari mulai terbit. Ia bergegas bangun dan mandi lalu pergilah ia menuju sebuah toko bunga. di belinya 10 bunga mawar dan 1 bunga yang terbuat dari pelastik yang menyerupai bunga mawar. Dengan penuh harapan dan optimis yang luar biasa. Ia melanjutkan perjalanannya menuju rumah kekasihnya. Singkat kata, ia mengetuk pintu rumahnya dan kebetulan kekasihnya yang membukakan pintu. Dengan penuh emosi wanita itu menutup kembali pintu rumahnya, karna rasa kecawanya belum reda dan tidak mau menemui si pria malang itu.

Di hadangnya pintu yang mau tertutup dengan kakinya dan langsung berlutut dengan memberikan karangan bunga mawar seraya meminta maaf. “Wanita itu diam tanpa kata seolah memberi kesempatan untuk kekasihnya berbicara” Dengan kesungguh-sungguhannya ia minta maaf akhirnya sang hati sang wanita luluh dan menerima maafnya. Lalu pria itu berkata, 

“Aku bawakan 10 bunga mawar yang asli dan 1 bunga mawar palsu dan cintaku padamu hanya akan berhenti ketika bunga yang terakhir layu dan mati.”

Semoga Bermanfaat, terima kasih...!



Available link for download

Read more »

Sunday, November 6, 2016

Cerpen Bencana Merapi

Cerpen Bencana Merapi


Di sebuah desa di kaki gunung merapi terdapat sebuah keluarga kecil yang tinggal di sebuah rumah kecil, ia tinggal di dekat rumah seseorang yang cukup terkenal sebagai bintang iklan sebuah produk minuman, orang itu bernama Mbah Marijan, kelaurga tersebut terdiri dari 4 orang manusia, ayahnya bernama Sugeng , ibunya bernama Supiah, sedangkan anak pertama bernama Firmun dan anak yang kedua bernama Kimpul, saat itu kelurga tersebut sedang beraktifitas di sekitar rumah, sang Ayah sedang berladang, Ibu sedang memasak, sedangkan Firmun dan Kimpul sedang bermain bola disamping rumah.


Tiba-tiba terjadi gempa gempa berkekuatan ringan yang terjadi selama 2 menit, setelah gempa berhenti mereka masih melanjutkan aktivitas seperti biasanya karena mereka sudah terbiasa dengan gempa gempa kecil seperti itu, tetapi secara tiba tiba gunung merapi mengeluarkan asap tebal yang menjulang tinggi ke langit biru pada awalnya langit berwarna biru, tetapi setelah merapi meletus, langit menjadi berwarna abu-abu dan debu berterbangan ke pemukiman warga. Warga sudah mulai banyak yang mengungsi ke rumah kerbat atau keluarga tetapi keluarga firmun lebih memilih bertahan di rumah sendiri.


“Ibu lebih baik kita bertahan disini dengan anak anak” kata ayah.
“Mengapa yah?” tanya ibu.
“Kita sudah biasa menghadapi bencana seperti ini, lebih baik kita bertahan disini mungkin merapi hanya bererupsi sebentar saja” kata ayah
“Jangan bicara seperti itu Yah” jawab ibu lembut.
“Iya bu maafkan ayah” kata ayah.
“Anak anak dimana?” tanya ibu.
“Mungkin mereka sedang bermain ke rumah temannya” jawab ayah

Setelah berbincang bincang mereka pun melanjutkan aktivitas nya masing masing, setelah beraktivitas mereka beristirahat sejenak di kamar tidur ayah dan ibu tertidur lelap sampai sore hari mereka baru terbangun setelah kedua anak mereka memanggil nya.

“Ibu....ayah... cepat keluar dari dalam rumah” teriak firmun.
“Ada apa nak?” tanya ibu
”Kenapa kalian?” kata ayah.
”Gunung merapi mengelurakan wedus gembel ayo kita harus cepat mengungsi Yah” seru kimpul “Ayo cepat naik ke mobil” seru ayah.
“Ayo” saut ibu.


Akhirnya mereka mengungsi ke posko pengungsian terdekat, mereka berencana kembali kerumah setelah merapi mulai berhenti mengeluarkan asap wedus gembel. Setelah beberapa hari di posko pengungsian mereka kembali ke rumah nya. Mereka mengarungi jalanan yang penuh dengan debu merapi. Mereka khawatir dengan kondisi rumah dan ladang mereka


“Yah bagaimana jika rumah dan ladang kita hancur di terpa wedus gembel” tanya kimpul
“Tidak apa-apa yang penting kita sekeluarga selamat dari bencana ini” jawab ayah
“Jika rumah kita hancur kita mau tinggal dimana” tanya ibu
“Pasti ada bantuan dari pemerintah nantinya” kata ayah

Setelah selama 1 jam mengarungi jalanan yang penuh debu akhirnya mereka sampai ke rumah mereka, mereka sangat terkejut karena melihat rumah mereka tidak hancur tapi sayang ladang mereka tertutup debu vulkanik sehingga seluruh tanaman mati.

“Yah bagaimana ini, semua tanaman di ladang kita mati” tanya firmun.
“Bersabar saja nak semua ini adalah cobaan dari tuhan kita” jawab ayah.
 “Tetapi bagaimana kita membiayai kehidupan kita nanti” tanya kimpul.
 “Ayah akan berusaha mencari modal untuk membeli bibit tanaman baru setelah bencana ini benar benar berhenti” jawab ayah.
“Terimakasih ayah atas semua perjuanganmu” kata ibu.
“Sama-sama ibu” jawab ayah.


Setelah lama mengobrol bersama akhirnya, mereka memutuskan untuk beristirahat karena hari sudah mulai malam. Ternyata pada saat itu merapi kembali mengeluarkan asap tebal yang disertai suara gemuruh akibat bebatuan dan lahar yang dimuntahkan oleh gunung merapi.


“Ayah merapi meletus lagi” seru ibu.
”Apa!” jawab ayah.
“Ayo cepat kita pergi ke posko” seru ayah.

Akhirnya mereka kembali pergi ke posko. Tetapi ada barang yang sangat berharga yang tertinggal di dalam rumah.

“Yah surat berharga kita seperti surat tanah dll tertinggal dirumah bagaimana yah” tanya ibu.
“Akan ayah ambil nanti jika sudah sedikit berhenti erupsinya” jawab ayah.

“Ayah disini saja, biar saya dan Firmun yang mengambilnya” kata kimpul.
“Iya yah sebaiknya ayah disini saja bersama ibu” kata firmun.
“Tapi...” seru ayah.
“Ayo pul kita pergi kerumah” kata firmun.
“Ayo mun” jawab kimpul.
“Firmun, kimpul jangan kesana” seru ibu.


Firmun dan Kimpul akhirnya pergi kerumah mereka untuk mengambil surat berharga yang tertinggal didalam rumahnya.


“Pul apa kamu tahu dimana ibu meletakan surat surat berharga itu” tanya firmun.

“Mungkin di lemari” jawab kimpul.
“Lemari mana” kata firmun
“Lemari dikamar ibu” jawab kimpul

Akhirnya mereka sampai dirumahnya dan masuk kedalam rumahnya

“Ayo pul kita masuk kedalam” ajak firmun.
“Ayo mun” saut kimpul.
“Dimana pul” tanya firmun.        
“Ayo kita lihat dilemarinya” ajak kimpul


Mereka mencoba untuk mencari surat surat yang berharga itu, Firmun mencoba membuka lemari itu tapi lemari itu tidak bisa dibuka.


“Kok tidak bisa dibuka pul?” tanya firmun.
“Coba ambil diatas lemari itu” jawab kimpul.
“Oh iya pul ternyata kuncinya ada disini” kata firmun.

Setelah kunci lemarinya tertemu diatas lemari Firmun mencoba membuka lemari itu.

“Lemarinya bisa dibuka pul” kata firmun.
“Coba cari suratnya” kata kimpul.
“Tidak ada pul surat suratnya”kata firmun.
“Yakin kamu mun coba cari lagi” kata kimpul.
“Tidak ada pul” kata firmun


Kimpul coba mencarinya ditempat lain, dia terus mencari sampai akhirnya dia terlelah dan tertidur dikamar ibunya, sementara itu Firmun terus mencari surat surat berharga tersebut, setelah beberapa lama mereka mencari, akhirnya mereka berdua tertidur lelap, setelah tertidur lama mereka terbangun gara gara mendengar suara gemuruh dari belakang rumahnya,ternyata sang merapi sudah memuntahkan isi perutnya sementara itu wedus gembel sudah menjulang tinggi ke langit biru, sedangkan gempa saling susul menyusul yang menyebabkan rumah mereka menjadi berantakan dan hampir rubuh akhirnya mereka mencoba untuk kabur tetapi kaki firmun tertimpa lemari didekatnya sehingga kakinya patah.


“Bagaimana ini kaki mu patah” kata kimpul.
“Sebaiknya kamu pergi saja tinggalkan aku disini” jawab firmun.
“Tidak saya tidak mau meninggakan kamu” kata kimpul.
“Cepat tidak apa apa” kata firmun.
“Saya tidak mau kamu mati” kata kimpul.
“Saya juga tidak mau kamu mati” kata firmun.
“Jika kamu mati saya juga harus mati” kata kimpul.
“Jangan bagaimana dengan ayah dan ibu” kata firmun.
“Bagaimana dengan kamu juga” kata kimpul.

Lama kelamaan wedus gembel semakin mendekat ke rumah mereka, sedangkan mereka masih saling berpelukan dan saling melindungi satu sama lain.

“Bagaimana pul wedus gembel semakin mendekat ke arah kita” tanya firmun.
“Kita pasrahkan saja semuanya kepada yang diatas” jawab kimpul.
“Baiklah pul” kata firmun.
“Ayo kita mulai berdoa” kata kimpul.


Ternyata panas wedus gembel membakar rumah mereka tetapi mereka tetap tidak beranjak dari tempatnya. Mereka berdua mengucapkan Selamat Tinggal Ayah Dan Ibu. Akhirnya mereka berdua mati dengan tubuh yang terbakar, yang tersisa dari mereka hanyalah tulang belulang mereka saja tulang belulang mereka tertumpuk menjadi satu.

Sementara itu Ayah dan Ibu mereka khawatir dengan keadaan mereka disana.

“Ibu bagaimana dengan keadaan anak anak kita diasana” tanya ibu.
“Sebaiknya kita berdoa agar mereka selamat” jawab ayah.


Keesokan harinya mereka berencana untuk menyusul anak anak nya, Kebetulan sekali ada rombongan tim SAR yang ingin mengevakuasi korban korban yang masih ada dirumahnya, Mereka berangkat bersama tim SAR dengan menggunakan mobil, dalam perjalanan mereka tidak henti hentinya untuk mendoakan anak nya, setelah beberapa lama mereka akhirnya sampai di jalan menuju rumahnya, mereka berdua berlari untuk melihat kondisi anak anak mereka. Setelah sampai rumhnya mereka sangat terkejut dengan keadaan rumahnya yang sebagian sudah terbakar. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, mereka sangat terkejut karena anak anak mereka tidak ada didalam rumahnya, mereka mencari ke berbagai tempat didalam rumahnya, akhirnya sang ibu menemukan anak anak nya tapi sayang mereka sudah tewas, sang ibu sangat terpukul dengan kejadian tersebut, ibu memanggil sang ayah Ayah...Ayah.. kesini.


Ayah menjawab, ada apa Bu ayah pun juga terkejut dengan keadaan kedua anaknya. Mereka berdua memanggil tim SAR untuk mengevakuasi kedua anaknya, setelah kedua anaknya dievakiasi mereka berencana menguburkan anak nya keesokan harinya. Ibu bicara pada ayah bagaimana Yah kedua anak kita sudah tidak ada, lalu ayah menjawab, tidak apa apa bu sebaiknya kita tabah dengan cobaan yang kita alami ini. Dua minggu kemudian Merapi sudah berehenti mengeluarkan wedus gembel dan material lainnya, Ibu dan Ayah merana karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi, harta satu satunya yang ia miliki hanyalah mobil butut.

Ayah berbicara dengan ibu sebaiknya kita jual saja mobil ini untuk membeli rumah dan merantau jauh dari tempat ini, ibu menjawab pembicaraan ayah ya sudahlah jika itu mau ayah. Tapi kita mau merantau kemana yah, ayah menjawab pastinya ketempat yang jauh dari tempat ini, bagaiman dengan kuburan anak kita, Ayah menjawab kita akan berjiarah setiap setahun sekali, ya sudahlah sebaiknya kita berkemas kemas untuk pergi jauh dari tempat ini. Akhirnya mereka berdua pergi jauh dari tempat yang dekat dengan gunung merapi dan mereka tidak lupa untuk menjiarahi kuburan kedua anak mereka. Sekian cerita dari saya semoga dapat memuasakn anda





Available link for download

Read more »